Setiap harga satuan di dalam RAB — misalnya harga 1 m2 plesteran atau 1 m3 beton — tidak muncul begitu saja. Di belakangnya ada analisa harga satuan pekerjaan, disingkat AHSP: rincian kebutuhan tenaga, bahan, dan peralatan untuk menyelesaikan satu satuan pekerjaan, lengkap dengan koefisien dan harga dasarnya. Artikel ini menjelaskan cara kerjanya sampai ke contoh perhitungan.
Apa itu AHSP?
AHSP adalah metode baku untuk menghitung harga satuan pekerjaan konstruksi. Prinsipnya sederhana:
Harga Satuan = Σ (Koefisien × Harga Dasar)
Koefisien menyatakan kebutuhan per satu satuan pekerjaan: berapa hari-orang (OH) tenaga kerja, berapa kilogram semen, berapa meter kubik pasir. Harga dasar adalah harga satuan komponen tersebut di daerah proyek. Kalikan, jumlahkan, jadilah harga satuan.
Di Indonesia, AHSP diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai acuan resmi. Edisi yang berlaku saat ini untuk bidang Cipta Karya adalah yang terlampir dalam SE Direktur Jenderal Bina Konstruksi No. 47/SE/Dk/2026 — memuat 10 divisi pekerjaan, 3.155 item pekerjaan, dan 2.776 analisa yang siap dipakai.
Komponen di dalam satu analisa
Satu analisa AHSP selalu terdiri dari tiga kelompok:
| Kelompok | Isi | Contoh satuan |
|---|---|---|
| A. Tenaga kerja | Pekerja, tukang, kepala tukang, mandor | OH (orang-hari) |
| B. Bahan | Semen, pasir, bata, besi, kayu | kg, m3, bh, lbr |
| C. Peralatan | Molen, scaffolding, alat bantu | jam, hari, unit |
Jumlah A + B + C adalah harga satuan dasar. Pada pekerjaan untuk pihak lain, harga satuan akhir biasanya ditambah biaya umum dan keuntungan (overhead & profit) sesuai ketentuan kontrak.
Contoh perhitungan AHSP
Misalnya kita menghitung harga satuan pekerjaan plesteran 1:4 tebal 15 mm, untuk 1 m2, dengan harga dasar contoh: semen Rp1.500/kg, pasir pasang Rp250.000/m3, pekerja Rp120.000/OH, tukang batu Rp150.000/OH, kepala tukang Rp170.000/OH, mandor Rp180.000/OH.
| Uraian | Satuan | Koefisien | Harga Dasar (Rp) | Jumlah (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| A. Tenaga kerja | ||||
| Pekerja | OH | 0,200 | 120.000 | 24.000 |
| Tukang batu | OH | 0,100 | 150.000 | 15.000 |
| Kepala tukang | OH | 0,010 | 170.000 | 1.700 |
| Mandor | OH | 0,003 | 180.000 | 540 |
| Jumlah A | 41.240 | |||
| B. Bahan | ||||
| Semen portland | kg | 6,240 | 1.500 | 9.360 |
| Pasir pasang | m3 | 0,024 | 250.000 | 6.000 |
| Jumlah B | 15.360 | |||
| C. Peralatan | — | |||
| Harga satuan (A+B+C) | 56.600 |
(Koefisien dan harga pada contoh ini disederhanakan untuk ilustrasi. Untuk pekerjaan resmi, gunakan koefisien dari AHSP yang berlaku dan harga dasar daerah Anda.)
Dari contoh itu terlihat logikanya: koefisien bersifat baku (kebutuhan semen untuk 1 m2 plesteran relatif sama di mana-mana), sedangkan harga dasar bergerak mengikuti daerah. Itulah sebabnya harga satuan antar daerah berbeda walaupun analisanya sama.
Mengapa koefisien tidak boleh diubah sembarangan
Koefisien adalah hasil pengamatan produktivitas dan kebutuhan material yang terstandar. Mengubahnya tanpa dasar akan merusak seluruh perhitungan: harga satuan jadi terlalu murah (kontraktor rugi atau mutu dikorbankan) atau terlalu mahal (penawaran kalah bersaing). Yang wajar disesuaikan adalah harga dasar, mengikuti survei harga setempat — dan di dalam katalog AHSP resmi, harga memang sengaja dikosongkan agar diisi per daerah.
Satu pengecualian: pekerjaan yang tidak ada di katalog resmi boleh dianalisa sendiri (sering disebut analisa lapangan/custom), dengan menyusun kebutuhan tenaga, bahan, dan alatnya berdasarkan pengalaman dan kondisi pekerjaan.
AHSP, SNI, dan HSPK — apa bedanya?
- SNI adalah standar teknisnya (cara dan mutu pelaksanaan), yang di dalamnya juga tercantum indeks/koefisien kebutuhan.
- AHSP adalah pedoman perhitungan harga satuan dari Kementerian PUPR yang menjadi acuan penyusunan RAB dan dokumen penawaran.
- HSPK (Harga Satuan Pokok Kegiatan) adalah harga satuan yang ditetapkan pemerintah daerah untuk keperluan APBD, disusun berdasarkan AHSP dengan harga dasar daerah setempat.
Dalam praktik sehari-hari, estimator bekerja dengan AHSP, lalu mengisi harga dasar daerahnya — persis seperti logika tabel di atas.
Menggunakan AHSP tanpa mengetik ulang ribuan item
Mengetik dan memeriksa 2.776 analisa satu per satu jelas tidak masuk akal. Karena itu katalog AHSP umumnya dipakai lewat aplikasi. Di ConstrucSee, seluruh katalog AHSP 2026 dari SE DJBK 47/SE/Dk/2026 — 10 divisi, 3.155 item pekerjaan, 2.776 analisa, 16.333 baris komponen — sudah termasuk di dalam aplikasi. Anda memilih pekerjaan, mengisi harga dasar daerah Anda (atau memilih indeks wilayah), dan harga satuan serta total RAB terhitung otomatis. Item yang tidak ada di katalog tetap bisa dibuat analisanya sendiri.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah AHSP 2026 menggantikan AHSP edisi sebelumnya? Untuk bidang Cipta Karya, SE DJBK No. 47/SE/Dk/2026 adalah acuan terbaru. Proyek yang kontraknya mengacu edisi lama tetap mengikuti dokumen kontraknya.
Dari mana saya mendapatkan daftar harga dasar? Dari survei harga toko bahan bangunan dan standar upah di daerah proyek, atau dari HSPK/SSH yang diterbitkan pemerintah daerah setempat.
Bolehkah harga satuan hasil AHSP dinego atau dibulatkan? Boleh sebagai strategi penawaran, selama perubahannya disadari dan terdokumentasi — yang diubah adalah harga penawarannya, bukan koefisien analisanya.
Apakah AHSP hanya untuk proyek pemerintah? Tidak. Proyek swasta dan rumah tinggal pun memakainya sebagai acuan, karena koefisiennya teruji dan membuat RAB bisa dipertanggungjawabkan kepada pemilik pekerjaan.